Ada satu hal yang belakangan ini bikin aku berpikir: rasa iri dan cemburu bisa membuat seseorang kehilangan akal sehatnya.
Aku mengikuti kronologi seorang kreator TikTok di X yang kabarnya sudah mengalami stalking oleh seorang perempuan sejak sekitar setahun lalu. Masalahnya ternyata nggak berhenti sampai di situ. Situasinya semakin rumit, sampai-sampai dia harus berusaha mati-matian untuk membersihkan namanya sendiri.
Bayangkan, bagaimana rasanya ketika ada orang asing yang menuduhmu macam-macam, menyebarkan fitnah ke mana-mana, sementara sampai sekarang bukti yang mendukung tuduhan tersebut belum juga ditunjukkan. Nama baikmu dipertaruhkan, privasimu terganggu, dan kamu harus menghadapi orang-orang yang mungkin sudah telanjur percaya pada cerita sepihak.
Capek? Sudah pasti. Apalagi kalau kamu bahkan nggak tahu apa yang sebenarnya membuat seseorang begitu terobsesi untuk menjatuhkanmu.
Internet bukan cuma tempat untuk berbagi
Sekarang ini, hampir semua hal bisa menjadi konten. Apa yang kita tulis, foto yang kita unggah, video yang kita buat, sampai hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari bisa mendatangkan perhatian dan popularitas.
Tapi, di balik perhatian itu, selalu ada kemungkinan munculnya rasa iri, kebencian, bahkan kecemburuan dari orang lain.
Ada orang yang melihat kesuksesan orang lain sebagai motivasi. Ada juga yang justru merasa terganggu melihat orang lain hidup bahagia.
Padahal, apa salahnya menjadi cantik, sukses, bahagia, atau punya banyak uang? Kita nggak perlu merasa bersalah hanya karena kehidupan kita berjalan dengan baik.
Namun, bukan berarti kita bisa sepenuhnya mengabaikan bagaimana kehidupan kita terlihat di mata publik. Bukan karena kita harus takut pada semua orang, melainkan karena internet punya cara tersendiri dalam memperbesar sesuatu yang awalnya sederhana.
Satu unggahan bisa disalahartikan. Satu kalimat bisa dipelintir. Sesuatu yang menurut kita biasa saja bisa menjadi bahan pembicaraan panjang bagi orang lain.
Bijak dalam berkata-kata, rendah hati dalam bersikap
Menurutku, ada dua hal yang penting ketika kita memutuskan untuk aktif di media sosial: berhati-hati dalam berkata-kata dan tetap rendah hati.
Bukan berarti kita harus terus-menerus menyensor diri sendiri atau berpura-pura menjadi orang lain. Kita tetap punya hak untuk mengekspresikan pikiran, membagikan pencapaian, dan menikmati hidup dengan cara kita sendiri.
Tapi, kita juga perlu sadar bahwa apa yang kita unggah ke ruang publik bisa dilihat, ditafsirkan, dan dikritik oleh siapa saja.
Anggap saja akun media sosialmu seperti ruang tamu di rumah sendiri. Kamu bebas menentukan apa yang ingin kamu ceritakan, tetapi begitu pintunya terbuka untuk publik, kamu juga perlu siap kalau ada orang yang punya pendapat berbeda.
Tentu saja, kritik itu berbeda dengan penghinaan, fitnah, atau tindakan menguntit. Kebebasan berpendapat bukan alasan untuk merugikan orang lain.
Kita boleh nggak suka pada seseorang, tetapi bukan berarti kita punya hak untuk merusak reputasinya atau membuat hidupnya terasa nggak aman.
Dan kalau sudah sampai pada tahap stalking, menyebarkan tuduhan tanpa dasar, atau terus-menerus mengganggu kehidupan seseorang, masalahnya bukan lagi sekadar drama media sosial.
Ada manusia sungguhan di balik layar yang harus menanggung dampaknya.
Popularitas punya harga yang nggak selalu terlihat
Melihat kejadian seperti ini membuatku berpikir bahwa menjadi terkenal di internet nggak selalu seindah yang terlihat.
Kita sering melihat sisi menyenangkannya: banyak pengikut, interaksi yang ramai, kesempatan kerja, atau bahkan penghasilan dari konten. Namun, ada sisi lain yang jarang dibicarakan, seperti kehilangan privasi, menjadi sasaran kebencian, sampai menghadapi orang yang terlalu terobsesi dengan kehidupan kita.
Yang lebih mengkhawatirkan, kita nggak pernah benar-benar tahu bagaimana orang lain akan merespons sesuatu yang kita bagikan.
Ada yang sekadar lewat, melihat, lalu melanjutkan hidupnya. Ada pula yang merasa perlu ikut campur, mencari-cari informasi pribadi, atau membangun narasi sendiri tentang kehidupan seseorang yang bahkan nggak mereka kenal secara personal.
Dan ketika hal itu terjadi, pengalaman yang awalnya menyenangkan bisa berubah menjadi sesuatu yang melelahkan dan menakutkan.
Tentu saja, ini bukan berarti kita harus berhenti membagikan sesuatu di internet. Kita hanya perlu memahami bahwa perhatian publik datang bersama risiko yang nggak selalu bisa kita kendalikan.
Fame game isn’t for everyone
Pada akhirnya, aku merasa bahwa popularitas memang bukan sesuatu yang cocok untuk semua orang. Bukan karena semua orang harus takut menjadi terkenal, tetapi karena nggak semua orang siap menghadapi konsekuensi ketika kehidupannya menjadi konsumsi publik.
Kita bisa belajar untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, menjaga batasan privasi, dan tetap rendah hati tanpa harus mengecilkan diri sendiri demi membuat orang lain nyaman.
Sementara itu, kalau ada seseorang yang terlihat lebih sukses, lebih cantik, lebih bahagia, atau lebih beruntung daripada kita, mungkin ada baiknya kita belajar untuk sekadar membiarkannya menjalani hidup.
Nggak semua hal harus dibandingkan. Nggak semua orang harus dijatuhkan hanya karena hidupnya terlihat lebih baik dari hidup kita.
Karena pada akhirnya, kebahagiaan orang lain seharusnya nggak menjadi ancaman bagi kebahagiaan kita sendiri.
Fame game is not for everyone. And honestly, not everyone deserves a front-row seat to your life.