Entah sudah berapa kali aku mendengar pertanyaan yang sama dilontarkan kepada cewek di sekitarku. Pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang, tetapi bisa menjadi beban pikiran bagi mereka yang terus-menerus menerimanya.
“Buat apa cewek sekolah tinggi-tinggi? Kalau ujung-ujungnya nikah, terus ngurus suami dan anak, buat apa capek-capek kuliah?”
Sebagai seorang cowok, aku selalu merasa ada yang keliru dari cara berpikir seperti ini.
Bukan karena aku menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang buruk. Justru sebaliknya, aku percaya pernikahan adalah salah satu perjalanan hidup yang indah. Namun, sejak kapan pernikahan dijadikan alasan untuk membatasi mimpi seseorang? Sejak kapan status sebagai istri dianggap bisa menghapus semua potensi yang dimiliki seorang cewek?
Yang lebih mengherankan, pertanyaan semacam ini bukan hanya datang dari cowok. Tidak sedikit cewek yang justru ikut mempertanyakan pilihan cewek lainnya untuk melanjutkan pendidikan, membangun karier, atau menunda pernikahan demi sesuatu yang sedang mereka perjuangkan.
Seolah-olah hidup cewek punya tenggat waktu yang sudah ditentukan masyarakat.
Harus lulus di usia sekian, menikah sebelum usia sekian, punya anak sebelum usia sekian, lalu menjalani kehidupan sesuai dengan skenario yang dianggap normal oleh orang lain.
Kalau meleset sedikit saja, pertanyaan mulai berdatangan.
“Kapan nikah?”
“Enggak takut keduluan teman-teman?”
“Nanti kalau sudah tua, siapa yang mau?”
“Memangnya enggak kepikiran punya anak?”
Lucunya, orang-orang sering kali merasa berhak menanyakan semua itu tanpa pernah benar-benar memahami apa yang sedang diperjuangkan seseorang dalam hidupnya.
Dan menurutku, persoalan ini bukan semata-mata tentang cewek yang terlalu sibuk mengejar pendidikan. Persoalan sebenarnya adalah cara kita memandang cewek, pernikahan, dan masa depan itu sendiri.
Aku memahami bahwa dalam Islam, pernikahan memiliki kedudukan yang mulia. Menikah bukan hanya tentang menyatukan dua orang, tetapi juga tentang tanggung jawab, komitmen, dan kesediaan untuk tumbuh bersama.
Aku juga menghargai cewek yang memilih menikah di usia muda. Kalau memang sudah siap secara mental, emosional, spiritual, dan memiliki pemahaman yang baik tentang tanggung jawab rumah tangga, kenapa ga?
Namun, yang perlu dipertanyakan adalah ketika pernikahan dijadikan jalan keluar dari ketakutan.
Takut dianggap ga laku. Takut menjadi terlalu tua. Takut ga punya anak. Takut hidup sendirian. Takut miskin karena belum memiliki pasangan yang bisa menanggung kebutuhan hidup. Bahkan, ada pula yang merasa harus segera menikah hanya karena mantan kekasihnya sudah lebih dahulu menemukan pasangan.
Bukankah melelahkan jika keputusan sebesar pernikahan harus didorong oleh rasa takut terhadap kehidupan orang lain?
Aku ga mengatakan bahwa semua orang yang menikah muda memiliki alasan seperti itu. Tentu saja ga. Ada banyak pasangan yang menikah muda dengan penuh kesadaran dan mampu membangun rumah tangga yang sehat.
Namun, menikah seharusnya menjadi keputusan yang diambil karena kesiapan dan keyakinan, bukan sekadar cara untuk menghindari penilaian masyarakat.
Sebab, pernikahan bukan perlombaan. Tidak ada hadiah khusus bagi mereka yang berhasil menikah lebih dahulu daripada teman-temannya.
Dan sebagai cowok, aku merasa cewek ga seharusnya dipaksa mengecilkan mimpinya hanya agar terlihat lebih pantas untuk segera dipilih seseorang.
Ada satu pertanyaan yang menurutku menarik untuk direnungkan:
If you will end up in the kitchen, why should you spend so much time studying?
Kalau pada akhirnya cewek akan berada di dapur, untuk apa menghabiskan begitu banyak waktu untuk belajar?
Pertanyaan ini mungkin terdengar masuk akal bagi orang yang melihat pendidikan hanya sebagai alat untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal, pendidikan jauh lebih luas daripada itu.
Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, bekerja di perusahaan besar, atau memperoleh penghasilan tinggi. Pendidikan juga membentuk cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, memahami dunia, dan menghadapi persoalan hidup.
Kalaupun seorang cewek kelak memilih menjadi ibu rumah tangga, apakah itu berarti pendidikannya menjadi sia-sia?
Tentu ga.
Seorang cewek yang berpendidikan tetap bisa memilih untuk mengurus rumah tangga. Seorang cewek yang memiliki karier juga tetap bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Keduanya bukan pilihan yang harus saling meniadakan.
Masalahnya bukan pada dapur, pekerjaan, atau rumah tangga. Masalahnya adalah ketika kita menganggap cewek hanya pantas memiliki satu peran dalam hidupnya.
Padahal, seseorang bisa memiliki banyak potensi sekaligus.
Aku percaya, cewek yang mencintai dunia memasak ga harus menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk memasak. Perempuan yang ingin menjadi ibu ga harus mengubur cita-citanya yang lain. Perempuan yang ingin berkarier juga ga harus merasa bersalah karena belum menikah.
Mereka berhak menentukan seperti apa kehidupan yang ingin dijalani.
Sama seperti cowok.
Sebagai seorang cowok, aku juga sedang belajar memahami bahwa kedewasaan bukan sekadar tentang kemampuan mencari uang, memiliki pekerjaan tetap, lalu menikah.
Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada itu.
Bagaimana kita memperlakukan pasangan. Bagaimana kita menghargai keputusan orang lain. Bagaimana kita membangun hubungan tanpa merasa perlu mengendalikan kehidupan seseorang. Dan bagaimana kita memahami bahwa pasangan hidup bukanlah seseorang yang harus berhenti berkembang setelah menikah.
Justru, aku ingin suatu hari nanti bisa berdampingan dengan cewek yang memiliki dunianya sendiri.
Perempuan yang punya pemikiran, cita-cita, prinsip, dan keberanian untuk memperjuangkan sesuatu yang diyakininya. Perempuan yang bisa mengajakku berdiskusi tentang banyak hal, mengkritik pemikiranku ketika keliru, dan tetap memiliki ruang untuk tumbuh sebagai dirinya sendiri.
Bukan karena aku membutuhkan cewek yang harus selalu terlihat pintar atau memiliki pencapaian luar biasa. Aku hanya percaya bahwa hubungan yang sehat ga dibangun dengan cara membuat salah satu pihak menjadi lebih kecil agar pihak lainnya merasa lebih besar.
Aku ga ingin menjadi cowok yang merasa terancam ketika pasangannya memiliki pendidikan lebih tinggi, penghasilan lebih besar, atau pencapaian yang lebih banyak.
Sebab, keberhasilan pasangan seharusnya bukan ancaman bagi harga diri kita.
Kalau aku benar-benar mencintai seseorang, mengapa aku harus takut melihatnya berkembang?
Bukankah lebih menyenangkan jika dua orang bisa saling mendukung, bertukar pikiran, dan tumbuh bersama daripada harus saling membatasi hanya demi mempertahankan ego?
Aku juga sering mendengar anggapan bahwa cewek yang terlalu fokus pada pendidikan dan karier akan kesulitan menemukan pasangan.
Mungkin ada orang yang memang memiliki preferensi tertentu. Itu hak masing-masing.
Namun, menurutku, akan sangat disayangkan jika seorang cewek harus mengorbankan potensinya hanya karena takut ga akan disukai oleh seseorang yang bahkan belum tentu hadir dalam kehidupannya.
Bayangkan jika ia berhenti mengejar cita-cita hanya untuk memenuhi standar pasangan yang belum diketahui siapa orangnya.
Bukankah itu berarti ia sedang menyerahkan keputusan hidupnya kepada kemungkinan yang belum tentu terjadi?
Aku ga mengatakan bahwa pendidikan tinggi otomatis membuat seseorang lebih baik dalam segala hal. Gelar akademik ga menjamin seseorang memiliki karakter yang baik, mampu berkomunikasi dengan sehat, atau bisa membangun rumah tangga yang harmonis.
Begitu pula dengan pernikahan. Menikah lebih cepat ga otomatis membuat seseorang lebih dewasa, lebih bahagia, atau lebih berhasil menjalani kehidupan.
Pendidikan dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda. Keduanya membutuhkan kesiapan, usaha, dan tanggung jawab masing-masing.
Karena itu, aku ga pernah melihat status lajang sebagai sesuatu yang memalukan. Begitu pula status menikah bukanlah bukti bahwa seseorang telah memenangkan kehidupan.
Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda.
Ada yang menikah saat masih kuliah. Ada yang menikah setelah membangun karier. Ada yang memilih fokus pada keluarga. Ada pula yang menemukan kebahagiaan melalui jalan hidup yang ga melibatkan pernikahan.
Selama keputusan tersebut diambil dengan kesadaran dan ga merugikan orang lain, mengapa kita harus sibuk menghakiminya?
Aku percaya pendidikan yang baik bisa membuka cara pandang yang lebih luas. Bukan berarti orang yang ga menempuh pendidikan tinggi ga bisa memiliki pemikiran yang bijaksana, tetapi kesempatan untuk belajar memang dapat membantu seseorang memahami lebih banyak kemungkinan dalam hidup.
Pendidikan juga ga menjamin seseorang akan mendapatkan pasangan yang luar biasa, hidup berkecukupan, atau memiliki keluarga yang sempurna.
Namun, pendidikan dapat menjadi salah satu bekal untuk menghadapi kehidupan dengan lebih baik.
Termasuk ketika seseorang harus membuat keputusan sulit, menghadapi kegapastian, membangun kemandirian, dan memahami bahwa ga semua hal bisa berjalan sesuai rencana.
Begitu pula dengan pernikahan. Kita bisa merencanakan usia menikah, tetapi ga bisa menjamin kapan akan bertemu orang yang tepat. Kita bisa berharap memiliki anak, tetapi ga sepenuhnya bisa menentukan kapan atau bagaimana hal itu akan terjadi.
Ada banyak hal dalam kehidupan yang berada di luar kendali manusia.
Karena itu, menurutku, jauh lebih baik mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan daripada terburu-buru mengambil keputusan hanya karena takut tertinggal dari orang lain.
Kalau hari ini seseorang memilih menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu, biarkan ia berproses.
Kalau seseorang memilih menikah muda, dukunglah selama itu merupakan keputusan yang matang.
Kalau ada yang memilih menjadi ibu rumah tangga, hargai pilihannya.
Dan kalau ada yang ingin membangun karier sebelum memikirkan pernikahan, jangan buru-buru menganggapnya terlalu ambisius.
Kita ga pernah benar-benar tahu apa yang sedang diperjuangkan seseorang di balik keputusan yang diambilnya.
Pada akhirnya, aku ingin hidup di lingkungan yang ga lagi menjadikan pernikahan sebagai ukuran keberhasilan seseorang.
Aku ingin melihat lebih banyak cowok yang ga merasa terancam oleh cewek mandiri. Lebih banyak cewek yang ga merasa harus meminta maaf karena memiliki cita-cita. Dan lebih banyak orang yang memahami bahwa membangun keluarga ga seharusnya menjadi alasan untuk berhenti bertumbuh.
Aku ingin suatu hari nanti, ketika seorang cewek mengatakan bahwa ia ingin melanjutkan pendidikan, respons pertama yang ia terima bukanlah pertanyaan tentang kapan ia akan menikah.
Melainkan dukungan untuk mewujudkan apa yang sedang ia perjuangkan.
Sebab, cewek bukan hanya calon istri bagi seseorang. Mereka adalah manusia dengan pemikiran, potensi, dan kehidupan yang layak diperjuangkan.
Begitu pula cowok. Kita ga seharusnya tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai diri kita hanya ditentukan oleh kemampuan mencari nafkah, memiliki pasangan, atau menjadi kepala keluarga.
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.
Dan satu hal yang inginku tegaskan: kualitas seseorang ga ditentukan oleh status hubungannya, apakah ia lajang atau sudah menikah.
Kualitas seseorang terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain, bagaimana ia bertanggung jawab atas pilihannya, dan seberapa besar kebaikan yang bisa ia hadirkan bagi lingkungan di sekitarnya.
Jadi, kalau hari ini ada cewek yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikannya, membangun karier, atau mengejar cita-citanya, biarkan ia melangkah tanpa harus terus-menerus menjelaskan mengapa ia belum menikah.
Dan kalau suatu hari nanti ia memilih untuk menikah, semoga ia menemukan seseorang yang ga memintanya mengecilkan dunia demi masuk ke dalam dunia orang lain.
Melainkan seseorang yang bersedia berjalan berdampingan, saling mendukung, dan membangun dunia yang lebih luas bersama-sama.
Karena bagiku, pasangan hidup yang baik bukanlah seseorang yang membuat kita berhenti menjadi diri sendiri.
Ia adalah seseorang yang membuat kita merasa aman untuk terus bertumbuh, tanpa harus kehilangan siapa diri kita sebenarnya.