Ketika memasuki 20an. Kamu bukanlah seseorang yang rapi dengan balutan jas dan dasi. Kamu bukan First Class Honours dari Universitas tingkat ketiga di Inggris. Kamu juga bukan pengguna bahasa filsafah ataupun quotes kuno dalam kehidupan.
Kamu adalah Calibri 11 pada jam 07:00 pagi di jalanan Gatot Subroto. Kamu adalah penggila Comic Sans yang sering membaca di ruangan kantor ditemani oleh sisa cangkir kopi dari kemarin, yang kadang kamu tinggal karena membaca comic sans membuatmu lupa membuangnya.
Kamu adalah seseorang yang selalu melupakan istirahat makan siang, selalu ketinggalan jika ada reuni keluarga ataupun acara berkumpul lainnya. Makan malam sendirian entah itu di luar ataupun di dapur telah menjadi kebiasaan. Kamu adalah pekerja yang pulang pergi diantar oleh mobil yang dicicil oleh orang tuamu, yang terkadang kamu lupa akan itu.
Kamu memang mampu menyewa apartment 3 kamar dengan fasilitas yang nyaman, kasur yang setia menunggumu pulang, kompor yang menunggu dijamah dan balkon yang menantimu untuk menikmati menara kembar dari ketinggian. Tapi sayang kamu meninggalkanya sepanjang hari.
Kamu akan melampiaskan perjuanganmu 15 juta selama sebulan yang tertulis rapi di slip gaji dengan menghirup Starbucks Venti 50 ribuan. Setelah itu kamu akan menggunakan emergency line 06:30 pada hari Rabu malam karena kelas Fitness akan dimulai setengah jam lagi dan Starbucks Venti memiliki 510 kalori.
Kamu akan sesekali membaca majalah Elite Daily. Kamu juga akan langsung membeli bodycon meskipun hanya kamu lihat sekilas. Karena Zalora mengatakan kamu harus memilikinya, strategi pemasaran yang ciamik memang.
Kamu akan mencari jus detoks yang dingin dan segar pada minggu berikutnya dan kamu akan sangat mengagumi Kayla Itsines. Kamu akan menghabiskan kurang lebih satu jam naik sepeda stasioner ketika nge-gym, namun bebarengan dengan itu pikiranmu telah berkelana ke tempat-tempat impian. Kamu hanya bisa bertanya-tanya sampai kapan aku kesana ya? Hingga tiket promo maskapai datang menghampiri.
Memasuki usia 24 tahun.
Kamu sudah benar benar dewasa dan mulai ga berharap banyak dengan kenangan masa lalu. Kamu telah meninggalkan kursi kecil berwarna coklat yang disusun rapi dibangku sekolah dasar. Paman Gober masih menunggu pukul 13:05 untuk membunyikan bel pulang, tapi dia ga mengenalimu lagi.
Kamu akan menggeliatkan badan diatas kursi yang ga terlalu nyaman di ruang rapat lantai ke-69. Kamu akan memberi kenyamanan dan perhatian lebih pada tulang belakang mu dengan melakukan gerakan ringan 16 kali tetapi mereka ga akan melihatmu. Mereka ga bisa mendengar mu.
Kamu mulai ga mengerti angka dan grafik yang diproyeksikan didepan layar ketika rapat. Kamu akan berenang di materi abu-abu mencari kata yang tepat untuk mengisi surat pengunduran diri mu, namun sepertinya pena yang kau genggam ga memiliki keberanian untuk itu.
Kamu tenggelam dalam pikiranmu sendiri dan membiarkan ide-ide mu musnah begitu saja. Setiap hari pasti ada lebih dari satu email yang harus dibalas, satu rapat lagi yang harus dihadiri, dan satu orang lagi yang harus dipuaskan. Pada intinya, Meskipun kehidupanmu tampak menyenangkan dan memeperoleh banyak tanda cinta (love=like) dari instagram. Sejatinya kehidupan bagimu membosankan.
Jari jarimu akan lelah menari untuk men-tap feed di laman Facebook mu. Kamu adalah seorang eksekutif muda yeng jam terbangnya tinggi dan memakai Daniel Wellington (jam tangan). Kamu adalah politikus yang memilih untuk ga memilih pada pemilihan terakhir. Kamu adalah seorang analisis lingkungan yang makan dengan kotak stryrofoam sebagai pengganti piring.
Kamu membaca dan berbagi artikel dari berbagai sumber yang professional, namun ga pernah membela pelayan yang di marahi bosnya di restoran kelas atas hanya untuk kesalahan kecil. Kamu ga menahan pintu untuk orang dibelakangmu semasa ditempat umum. Namun kamu percaya bahwa “motivated attitude” dan “proficiency in Microsoft word” akan membukakan pintu sukses untuk mu.
Ketika kamu berusia 28 tahun.
Kamu bukan tokoh utama dalam dongeng yang di jodohkan dengan seseorang yang sempurna, bukan juga menemukan pasangan dari “YouTube”. Kamu adalah tanda centang double berwarna biru di “WhatsApp” yang dibaca 7 jam yang lalu.
Kamu suka nongkrong dengan gaya kasual setelan cowok ganteng (celana jeans dan T-Shirt keren), ditemani Heineken dan Malboro Lights pada malam jumat di mall kawasan elite. Dan semuanya berakhir pada undangan pernikahan yang ga terbaca di laman sosmed, kamu tinggalkan begitu saja.
Kamu adalah lambang dari generasi saat ini— lahir dan diberi makan dengan dongeng tentang “How you can do anything you want” dan “No one can dictate what you chosee to do”, kamu akan berjuang melawan rasa terikat dan menggantinya dengan –kebebasan. Dalam dunia Times New Roman. Kamu lebih menyukai 12-point, tebal, dan kadang-kadang dimiringkan.